Ya,..mendengar kalimat “masa muda,masa yang berapi-api.” Pikiran kita langsung tertuju pada si raja dangdut, siapa lagi kalau bukan Pak H.Rhoma Irama dengan salah satu lagunya yaitu “Darah muda”. Sungguh begitu nikmat didengar, lagu-lagu dari si Raja dangdut yang akrab dipanggil Bang Haji memang patut diacungi jempol. Indonesia patut berbangga hati mempunyai sosok seorang H.Rhoma Irama. Namun, wacana kali ini bukan akan membicarakan tentang kehidupan si Raja dangdut ini dengan segala lika-likunya. Mungkin dilain kesempatan wacana akan membicarakannya.Kali ini yang akan kita bicarakan/sedikit kita kupas adalah mengenai salah satu lirik lagu yang berjudul “Darah Muda” , yaitu “Masa muda, masa yang berapi-api”.
Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari masa anak-anak menuju masa dewasa ( kurang lebih 12 - 22 tahun ). Bermula dari perkembangan badan yang sangat cepat, seperti perkembangan tinggi badan, berat badan, dan sampai pada karakteristik seksual. Masa muda atau masa remaja memang boleh dikatakan adalah masa dimana manusia dalam keadaan full power dan penuh semangat. Ada pula yang menyebut masa remaja adalah masa pencarian jatidiri, masa dimana kita menentukan seperti apakah hidup kita, masa dimana kita bekerjakerah meraih cita-cita, dan lain sebagainya. Nampaknya Bang Haji tidak terlalu berlebihan jika menyebut “masa muda adalah masa yang berapi-api”.
Akan tetapi bagaimana jika masa muda kita hilang begitu saja? Atau tidak meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat atau tidak menimbulkan hikmah? Waw,...lalu dimana masa berapi-api kita? Tentunya ini bukan suatu hal yang kita inginkan.
Selain masa yang full power, masa pencarian jatidiri,dan lain sebagainya. Masa remaja adalah masa yang rentan terhadap tingkah laku-tingkah laku negatif ( labil ). Kebanyakan dari para remaja belum bisa mengendalikan tingkat emosionalnya. Masa remaja tentu sudah tidak dapat dikerasi seperti dimarahi dengan kalimat kasar atau dipukul. Semakin dikersi mereka akan semakin menjadi-jadi. Disinilah karakteristik remaja tersebut terbentuk. Selain itu, keharmonisan keluarga juga sangat berpengaruh. Remaja yang hidup dilingkungan keluarga yang tidak begiu harmonis ( broken home ) atau kurangnya perhatian dari orang tua cenderung sulit untuk bersosialisasi dan cepat putus asa.
Remaja yang sedang mengalami/dilanda permasalahan-permasalahan seperti yang di bicarakan diatas, mereka cenderung mencari pelampiasan/apapun yang dianggap bisa menenangkan dirinya. Kalau pelampiasan tersebut masih tergolong hal yang positif dan tidak merugikan dirinya atau orang lain, melinkan sangat bermanfaat. Hal ini bisa dikatakan “jalan anda sangat tepat”. Akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak seperti itu, mereka cenderung memilih hal-hal yang dapat menenangkan dirinya tetapi bersifat sementara dan tentunya negatif, seperti : minum-minuman, Narkoba, seks bebas, dan lain sebagainya.
Dr. James Dobson dalam buku “Dare to Disclipine” bahkan melihat lebih jauh lagi. Ia berpendapat, kesukaran saat remaja adalah hasil didikan yang salah ketika remaja masih berumur antara 0 – 5 tahun atau balita. Menurut dia, jika balita tidak pernah dilatih untuk menghargai orang tua dan belajar menolong, sukar diharapkan ia tumuh jadi remaja ataupun orang dewasa yang sopan santun dan penolong... ( dikutip dari :www.balipost.co.id ,keluarga, 19/12/2009 ).
Mungkin dari kebanyakan orang tua akan setuju dengan pernyataan saya bahwa mendidik anak remaja itu gampang-gampang susah. Akan tetapi ,bukan berarti sebagai orang tua menyerah begitu saja. Memberi pembekalan ilmu seperti menyekolahkan mereka setinggi-tingginya atau disekolahkan disekolah yang favorit sepertinya belum cukup. Selain menjaga suasana yang harmonis antar anggota keluarga dan menerapkan etika/sopan santun antar anggota keluarga, pembekalan ilmu agama juga tidak kalah pentingnya. Karena akan sangat baik jika ilmu agama menjadi landasan pola pikir mereka dalam mengarungi kehidupannya.
By. Gelandang kecil.
Sumber : www.balipost.co.id
Wikipedia
photo by. wonkurep.blogspot.com
No comments:
Post a Comment